Selasa, 31 Maret 2015

Desa Trunyan

Keunikan Desa Trunyan Bali Tentang Pemakaman - Bali adalah sebuah daerah wisata yang selalu memiliki keunikan yang berbeda dari objek wisata lain. Salah satu tujuan wisata yang terkenal karena keunikannya adalah Desa Trunyan bangli, mengapa dikatakan unik? bukan karena tempatnya yang membuat unik, tetapi karena keunikan dalam hal pemakaman bagi orang yang telah meninggal. Pada umumnya pemakaman di bali itu dilaksanakan dengan cara penguburan dan pembakaran (Ngaben) walaupun dengan penguburan pun ujung-ujungnya juga harus diadakan upacara pengabenan.
Namun berbeda dengan di desa trunyan, desa yang disebut-sebut sebagai desa tertua di bali ini melaksanakan pemakaman hanya dengan meletakkan mayatnya pada sebuah tempat khusus yang disebut 'seme wayah'. Walaupun ditempat itu banyak mayat yang diletakkan begitu saja, namun tidak ada bau busuk yang disebabkan oleh satu mayat pun disana. Mungkin ini terlihat tidak lazim, tetapi itulah kenyataanya.
Desa trunyan ini terletak di sebelah barat Danau Batur, dan dekat dengan Gunung Batur gunung yang menjadi jajaran Geopark dan menjadi gunung pendakian. Desa Trunyan ini telah dikenal oleh para wisatawan domestik maupun manca negara sebagai objek wisata unik di bali.
Untuk menuju ke "Seme Wayah" tempat pemakaman mayat desa trunyan ini, ada 2 jalur yakni jalur pertama adalah jalur darat dan yang kedua adalah jalur danau. Jika melalui jalur darat, maka akan memakan waktu sekitar 45 menit dengan melewati desa penelokan. Jalur yang kedua adalah jalur danau, pada jalur ini pun ada 2 cara penyebrangan yakni lewat desa trunyan yang dapat memakan waktu sekitar 15 menit dan lewat pelabuhan kedisan akan memakan waktu sekitar 45 menit. Namun saya akan merekomendasikan anda untuk menempuh jalur danau dari desa trunyan. Melewati danau mengunakan sebuah kapal boat yang dapat anda sewa termasuk menyewa seorang pemandu wisata dalam satu paket jasanya.
Sesampai di tempat pemakaman 'Seme Wayah' anda akan melihat sebuah tempat berbentuk cekungan dan berundagan. Masuk ke dalam anda akan disambut oleh 2 candi yang berisi jejeran tengkorak dan tempat meletakan kepingan uang bagi para wisatawan. Terdapat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi gagah yang dinamakan 'Taru Menyan' Taru artinya Pohon dan menyan Artinya wangi. Konon yang membuat mayat-mayat disini tidak berbau busuk adalah pohon ini, pohon yang dapat menetraisis bau busuk yang disebabkan oleh mayat.
Melangkah lebih dalam anda akan menyaksikan jejeran tengkorak manusia lengkap dengan tulang-tulang lainnya, bahkan anda mungkin tidak akan sadar bahwa yang anda injak disana adalah sisa-sisa tulang dari mayat yang dimakamkan disana. Jika anda beruntung, anda dapat menyaksikan mayat yang masih utuh yang dimakamkan disana. Untuk menghindari binatang buas yan merusak mayat, mayat yang baru dimakamkan akan diberi penghalang dari ulatan bambu yang dibentuk seperti segitiga memanjang sesuai ukuran tubuh mayatnya. Wisata ini lebih mengarah pada wisata misteri atau musium tulang, dimana tengkorang dan tulang-tuang manusia dapat anda temukan disekeliling anda.
Faktanya, tidak semua mayat dapat dimakamkan di tempat ini, hanya orang-orang yang meninggal secara wajar yang mayatnya dapat dimakamkan disini selain itu juga mayat dari anak kecil yang gigi susunya telah tanggal. Selain dari pada itu, orang yang meninggal karena kecelakaan atau tak wajar lainnya akan dimakamkan di tempat yang berbena yakni 'Seme Cerik'.
Konon mitos yang beredar di masyarakat sekitar, ketika orang yang semasa hidupnya selalu berbuat dosa dan dimakamkan di 'sema wayah' ini maka mayatnya akan sangat lama mengalami pembusuakan. Namun orang yang semasa hidupnya sealu berbuat baik, maka mayatnya akan cepat mengalami pembusukan.
Sumber : http://www.wisatabaliutara.com/2014/12/keunikan-desa-trunyan-bali.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar