Rabu, 18 Februari 2015

Bukit Campuan, Bukit cinta

Bali pesonanya memang tidak pernah habis. Ada saja objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, kita tahu Bali terkenal dengan pantainya yang indah-indah, kekuatan pariwisatanya terletak pada pantai-pantai cantiknya tersebut yang mampu menyedot perhatian wisatawan asing maupun lokal. Namun seiring berkembangnya waktu, semakin banyak objek wisata lain yang tidak melulu seputar pantai banyak bermunculan. Ini membuat tujuan wisata di Bali semakin bervariasi dan makin banyak lagi wisatawan datang serta sayang untuk anda lewatkan untuk menyempurnakan liburan anda, ada pantai, ada pula tempat wisata serba hijau.
Salah satunya yakni Bukit Campuhan yang letaknya di kawasan Ubud, bukit ini diapit oleh dua buah sungai, wah..kebayang kan serunya. Untuk mencapai lokasi anda harus berjuang terlebih dahulu, dari gapura masuk anda harus berjalan (bersepeda) kira-kira sepanjang 1-2km, siapkan bekal air minum yang cukup dan beberapa stok makanan ringan kalau-kalau anda kelelahan, karena memang butuh tenaga ekstra apalagi ada susunan tangga serta jalan menanjak yang harus anda lalui.
Itu semua akan terbayarkan dengan keindahan view bukit yang asri, hijau sepanjang mata memandang, dan tentunya anda akan disambut udara sejuk menyegarkan. Lebih asik lagi apabila anda datang ketika cuaca dan langit cerah, hamparan langit biru terang berhias sedikit awan, berpagu hamparan permadani hijau alami, hmmm….. dijamin otak menjadi freshseketika. Kawasan ini terbilang luas, kurang lebih 10 hektar, untuk kemari tidak dipungut biaya.
Bukit Campuhan atau Campuhan Hill terletak di Desa Campuhan, Kec. Ubud, Kab.Gianyar, Bali. Selain tentunya bisa menikmati panorama alamnya yang mempesona, anda dapat melakukan berbagai aktivitas seru lainnya seperti trekking sambil memuaskan hobi fotografi anda, ada banyak angle menarik untuk anda abadikan dengan kamera foto anda lho.

Seperti kebanyakan tempat wisata, Bukit Campuhan juga memiliki cerita legenda, konon kabarnya bukit ini juga disebut dengan “Bukit Suci Gunung Lebah” karena suci penduduk setempat meyakini wisatawan yang datang berkunjung harus menjaga tingkah laku dan tata krama dalam artian tidak melakukan pengrusakan, menjaga kebersihan bukit, tidak berbicara kotor apalagi berbuat yang tidak senonoh, intinya seperti layaknya bertamu ke kediaman orang lain, kita pengunjung haruslah menjaga sikap.


1 komentar: